Jumat, 24 Februari 2012

Hadist 2

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .  

[رواه مسلم]



Arti hadits / ترجمة الحديث :



Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

(Riwayat Muslim)



Catatan :

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah)



Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“,  dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.

Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Hadist 1

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]



Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .



Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).



Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.

Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Love Is Cinta

“ Love “

Love is a give ...

Yup that’s definetely right ...

Cinta adalah rahmat dari nya ...

Karena dengan cintalah ...
Seorang ibu merelakan jiwa nya demi untuk kelahiran buah hati nya ...

Karena dengan cintalah ...
Seorang ayah merelakan diri nya berusaha sekuat tenaga demi mencari nafkah untuk anggota keluarga nya ...

Karena dengan cintalah ...
Shalahuddin Al Ayyubi tidak dapat tertawa sebelum masjid al-aqsho dapat di bebaskan untuk menebus cinta nya kepada Rabbul Izzati ...

Karena dengan cintalah ...
Para mujahid dan mujahidah rela mengorbankan harta ,
Jiwa dan raga nya untuk mendapat cinta dari yang maha mempunyai cinta ...

Allah ...

Ya ...
Dialah allah sang Ar-Rahman ...
Dengan cinta nya ...
Bumi ...   Langit ...   Planet melaju dalam alur yang harmonis ...

Dengan cinta nya ...
Angin masih menyapa tetumbuhan dan rerumputan ...

Dengan cinta nya ...
Cahaya mentari masih menerpa hangat tubuh kita ...
Kepada allah lah muara cinta yang hakiki ...

Penulis ,
Salamatul Mahbubah

Cintailah Allah

“ Cintailah Allah
Dengan Sepenuh Hati “

Jangan memuji kecantikan pelangi ...
Tapi pujilah keagungan ilahi
Yang telah menciptakan langit dan bumi

Jangan percaya dengan kata-kata pujangga ...
Tapi percayalah dengan kalam allah yang nyata

Jangan pernah merasa senang ...
Dengan selalu mengingat kekasih dunia mu
Tapi ingatlah dan sebutlah nama allah
Hingga hati mu terasa tenang

Jangan pernah sedih jika cinta mu di dustakan ...
Tetapi segeralah engkau bersedih
Jika pernah mendustakan allah

Jangan pula engkau minta cinta kepada penyair ...
Tapi mintalah cinta kepada allah
Yang memiliki cinta sejati

Cintailah allah dengan sepenuh hati ...
Agar engkau juga bisa mendapatkan cinta nya

Ya Allah yang maha penyayang
Aku mohon kepada mu
Jangan jadikan hati ini membeku seperti batu
Hingga lupa akan rahmat mu ...

Penulis ,
Salamatul Mahbubah

Hidup Dan Mati



Allahu Robbiyy
Saat Itu ...
Saat yang telah berlalu
Menambah ramai indah dunia
Menyusur sunyi relung hati
Dan akupun masih dalam pencairan ku

Allahu Robbiyy
Saat Ini ...
Saat yang sedang berlangsung
Bertanya hati dalam keraguan
Akankah diri masih dalam berpijak kaki
Esok cerah yang masih ku nanti

Allahu Robbiyy
Saat nanti ...
Saat yang akan datang
Beribu ragu.. Resah mendayu
Berjuta tanya mulai terasa
Akankah hidup masih menyapa akan hadirku

Allahu Robbiyy
Bilakah saat itu akan datang ...
Masihkah jiwa ini akan menikmati kecapan lembut halus mu
Dalam hidup ku menanti kematian
Tak tau kapan ajal menjelang

Ketika hidup menanti mati dan Ketika mati menjelang menyapa hidup
Saat pinta menyapa harap
Jadikanlah diri ini dalam naungan mu
Ketika ku harus menjalani nya ...

Penulis ,
Salamatul Mahbubah

Ya Rasulullah


Engkaulah mata air hati dan pikiran kami
Wahai teladan yang tak pernah padam

Ya nabiyallah , ya Habiballah ...
Betapa suci akhlak mu
Bagai cahaya kesucian al-qur’an
Hadirkan cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahan mu dalam doa kami
Mengalirlah jihad mu dalam hati kami
Tumbuhkanlah akhlak mu dalam hidup kami

Ya nabi  ,   Ya Rasulullah ...
Pujaan hati kami , kekasih allah

Penulis ,
Salamatul Mahbubah

Mukodimah

MUKODIMAH
(Menerangkan tentang Awal Penciptaan Mahluk)

Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT telah mendatangkan kepadamu sesuatu yang dicintai dan diridhoiNya, ketika Allah SWT menciptakan Ruh Muhammad SAW pada awalnya dari Nur sifat Jamal (Keagungan)Nya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Aku ciptakan Ruh Muhammad SAW dari Nur Dzat-Ku”.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Ruh-ku, Sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Nur-ku, sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Qolam dan sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Akal”.
Yang dimaksud semuanya adalah sesuatu yang satu, yaitu Hakikat Muhammad SAW, tetapi dinamakan Nur karena terang, bersih dari kegelapan Al-Jalaliyah.
Allah Tabaroka Wata’ala berfirman :
“Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah sebuah cahaya dan kitab yang jelas” QS. Al-Maidah : 15

Akal bisa menemukan segalanya, sedangkan Qolam menjadi sebab berpindahnya ilmu, seperti halnya pena yang menjadi alat berpindahnya ilmu ke dalam bentuk huruf/tulisan.
Maka Ruh Muhammad adalah bentuk yang murni, awalnya mahluk yang ada di alam semesta ini dan merupakan asal cikal bakalnya mahluk.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Aku diciptakan dari Allah, dan orang-orang mukmin diciptakan dari-ku”.

Dan Allah SWT menciptakan semua ruh di alam Lahut dari Nur Muhammad di dalam kesempurnaan bentuk pada hakikatnya. Muhammad adalah adalah nama global dari seluruh manusia di alam (Lahut) tersebut, yaitu yang disebut dengan Tanah Asal.
Sesudah berselang 40.000 tahun di alam lahut, kemudian Allah menciptakan ‘Arsy dan semua alam semesta dan isinya dari Nur dzatnya Nabi Muhammad SAW, maka kemudian Allah SWT memasukan para arwah tersebut kedalam ciptaanNya yang paling rendah yaitu beberapa Jasad.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Kemudian Kami masukan ia ke dalam bentuk yang paling rendah”.
QS. At-Tin : 15.

Maksudnya ialah turunnya ruh pada awalnya dari alam Lahut ke alam Jabarut, kemudian Allah memakaikan kepada mereka (ruh) sebuah pakaian yang bersal dari Nur Jabarut, yaitu sebuah pakaian yang menutupi qubul dan duburnya, maka kemudian ruh tersebut diberi nama Ruh Sulthoni. Kemudian Allah menurunkan kembali ruh yang sudah memakai pakian tersebut ke alam Malakut dan diberi pakaian kembali yang berasal dari Nur Malakut, dan mereka di beri nama dengan Ruh Ruhani, kemudian diturunkan kembali ke alam Mulki dan diberi pakaian yang berasal dari Nur Mulki dan kemudian diberi nama Ruh Jismani. Kemudian Allah menciptakan jasad dari Tanah alam mulki tersebut.

Sebagaimana Allah SWT  berfirman :
“Dari tanah Aku menjadikan kamu sekalian, dan ke dalam tanah Aku akan mengembalikan kamu dan dari dalam tanah kembali Aku membangkitkan kamu sekalian pada kehidupan yang lain”. QS. Toha : 55.

Kemudian Allah SWT memerintahkan ruh-ruh tersebut untuk masuk kedalam jasad, maka dengan perintah Allah ruh tersebut pun masuk.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“ Aku tiupkan kedalam jasad roh-Ku...”. QS. Shod : 72.

Maka ketika ruh-ruh tersebut menyatu didalam jasad, mereka menjadi lupa semuanya, asal-usulnya dan tentang hari perjanjian mereka dengan Allah SWT ketika ditanya oleh Allah SWT, “Apakah Aku ini Tuhanmu? Kemudian mereka menjawab : iya!”. Dan mereka berjanji akan selalu menyebut dan mengingat-ngingat namanya sampai hari kiamat. Mereka (para ruh) lupa. Maka ruh-ruh tersebut tidak akan bisa pulang kembali ke tanah asalnya (alam Lahut), maka Allah Ar-Rohman merasa kasihan kepada mereka dengan menurunkan Kitab Samawiyah untuk mengingatkan mereka kepada tanah asalnya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Dan Allah mengingatkan mereka akan hari-hari Allah”. QS. Ibrohim : 5.
Yaitu hari bersamanNya, Tentang perjalanan mereka yang sudah terlewat. Untuk alasan inilah para Nabi-nabi terdahulu sampai dengan diutusnya Ruh Agung yaitu Nabi Muhammad SAW yang menjadi utusan terahir dan menjadi petunjuk dari jalan yang salah, beliau dan para nabi-nabi lainnya di utus ke dunia ini dan pergi ke akhirat yaitu untuk mengingatkan ruh akan perjalanannya menuju tanah asal mereka, maka hanya sedikit sekali yang ingat, berkeinginan dan mau pulang menuju tanah asalnya (Alam Lahut).
Maka Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW terhadap golongan orang-orang yang lupa, supaya mata hati mereka terbangun dan sadar dari tidur yg melelapkan, maka Nabi pun memanggil-manggil mereka untuk kembali kepada Allah SWT, berkumpul kembali dengaNya dan merasakan kembali sifat Jamal-Nya yg Azali.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata".
QS. Yusuf : 108.

Rasulullah SAW bersabda :
“Sahabat-sahabat-ku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada
mereka yang kamu ikuti, maka kamu akan temui jalan yang benar”.

Mata hati adalah bagian dari Dzatnya Ruh, yang akan terbuka di dalam jantung hati orang-orang yg sudah menjadi kekasih-nya Allah (para Auliya). Dan yang demikian tersebut tidak akan tercapai hanya dengan Ilmu Dzohir, tetapi harus dengan Ilmu Laduni Al-Bathin.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
QS. Al-Kahfi : 65.

Maka wajib hukumnya bagi tiap-tiap manusia untuk bisa mencapai hal tersebut (membuka mata hati) bagi orang-orang yang mempunyai mata hati dengan ditalqin oleh Wali Mursyid (Guru) yang mengetahui dan dapat menjelaskan tentang perjalanan ruh dari Alam Lahut dahulu. Maka wahai saudar-saudara... bergegaslah kalian semua meminta pengampunan dari Allah SWT dengan cara bertaubat dan kembali kepadaNya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Dan bergegaslah kamu sekalian menuju pengampunan dari Tuhan-mu, Syurga luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS. Al-Imron : 133.
Maka masuklah kalian pada jalan tersebut dan kembalilah kepada Tuhan kalian yaitu Allah SWT dengan beberapa kunci (cara) keruhanian tersebut sebelum jalan tersebut terputus dan tidak ada lagi yang menemani-mu di alam tersebut.

Oleh karena itu para Nabi-Nabi kalian menunggu dan bersusah payah dikarenakan kalian, dan tidak sekali-sekali Aku (Nabi Muhammad SAW) diturunkan ke dunia yang hina ini hanya sekedar untuk makan dan memenuhi kebutuhan badan saja, dan bukan hanya untuk memanjakan keinginan nafsu yang hina ini.

Sebagaimana Rasululloh SAW bersabda :
“Aku bersusah payah karena umat-ku yang ada di ahir zaman”.

Adapun Ilmu yang diturunkan kepadaku yaitu ada 2 macam ilmu, yaitu Ilmu Dzohir dan Ilmu Bathin, maksudnya ialah Ilmu Syari’at dan Ilmu Ma’rifat. Adapun kedudukannya Ilmu Syari’at adalah pada dzohir-ku, dan Ilmu Ma’rifat untuk bathin-ku, sampai hasil dari kumpulnya kedua ilmu tersebut yaitu Ilmu Hakikat. Seperti halnya kumpulnya pohon dan daunnya yang menghasilkan buah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Terbentang 2 samudera yang saling bertemu, dan diantaranya terdapat daratan yang tak berujung”.

Maka hanya dengan mengandalkan Ilmu Dzohir, tidak akan bisa mencapai ilmu Hakikat dan tidak akan samapai pada tujuan yang dimaksud. Maka Ibadah yang sempurna ialah dengan keduanya (dzohir dan bathin), bukan dengan salah satunya saja.


Allah Ta’ala berfirman :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. QS. Adzariyat : 56.
Maksudnya ialah supaya mereka mengenal dan berma’rifat.
Karena, barangsiapa yang tidak mengenal Allah SWT, bagaimana ia akan beribadah/menyembahNya.

Sesungguhnya ilmu Ma’rifat bisa dicapai dengan cara membuka/menyingkirkan hijab nafsu dari Kaca Hati, yaitu dengan cara membersihkan dan mensucikannya, sesudah hal tersebut tercapai maka akan terlihat eloknya tempat atau harta karun yang disamarkan didalam Sir Palung Hati.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi :
“Sesungguhnya Aku berada pada suatu tempat/harta karun yang disamarkan, maka Aku senang untuk dikenal, maka aku ciptakan mahluk supaya mengenak-Ku”.
Maka, oleh karena itu jelaslah sudah, sesungguhnya Allah SWT menciptakan manusia untuk berma’rifat/mengenal kepadaNya.

Adapun Ilmu Ma’rifat itu terbagi menjadi 2 macam :
1.    Ma’rifat Sifat Allah (Mengenal sifat-sifat Allah SWT), yaitu diperuntukan bagi Jasmani di Dunia dan Akhirat.
2.    Ma’rifat Dzat Allah (Mengenal dzat Allah SWT), yaitu diperuntukan bagi Ruh Qudus di Alam Akhirat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“dan Kami memperkuatnya dengan Ruh Qudus”. QS. Al-Baqoroh : 87.
Dan mereka diperkuat dengan Ruh Qudus.

Dan 2 macam Ilmu Ma’rifat tersebut tidak akan berhasil tanpa dengan kedua ilmu yg sudah diterangkan sebelumnya, yaitu Ilmu Dzohir dan Ilmu Bathin.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Ilmu itu ada 2, Ilmu Lisan (ucapan) yaitu untuk menjadi dalil dan bukti akan adanya Allah. Dan Ilmu Jinan (Jinan) itulah yang disebut Ilmu yang dapat bermanfaat (Nafi’) ”. Yaitu dapat mencapai maksud yang dituju.
Adapun pada awalnya manusia membutuhkan Ilmu Syari’at, agar dapat berhasil usaha jasmaniyah/badannya dalam berma’rifat kepadaNya, yaitu di dalam Alam Sifat atau disebut juga Alam Derajat. Kemudian dilanjutkan dengan Ilmu Bathin, agar dapat berhasil usaha ruh dalam  berma’rifat kepadaNya. Dan hal tersebut tidak akan berhasil kecuali dengan membuang kotoran/larangan-larangan yang bertentangan dengan Syari’at dan Thoriqot, dengan cara harus siap dan menerima untuk memerangi nafsu dan bersusah payah dalam kehidupan demi hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT dengan tanpa riya (Ingin dilihat) dan sum’ah (Ingin didengar).

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa mengharapkan dapat bertemu dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah sekali-kali ia mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
QS. Al-Kahfi : 110.

Adapun Alam Ma’rifat adalah Alam Lahut atau yang disebut dengan tanah asal yang sudah diterangkan sebelumnya. Di alam tersebut Ruh Qudus diciptakan dengan bentuk yang sempurna. Yang dimaksud dengan Ruh Qudus tersebut adalah hakikatnya manusia (Insan Hakiki) yang diletakan didalam  Palung Hati, dan bisa dzohir wujudnya dengan taubat, talqin dan membiasakan lisannya untuk selalu mengucap-ucapkan kalimat “Lailaha ilallah” pada tahap awalnya, setelah hatinya hidup kemudian kalimat “Lailaha ilallah” tersebut dibiasakan diucapkan di dalam hati. Ketika dalam keadaan rohani yang demikian (dzohir/wujudnya ruh qudsi) maka bisa sebut kembali dengan sebutan “Bocah ma’ani” karena di dalam maknanya suci kembali dari segala seperti halnya seorang bocah/bayi.
Ruh Qudus bisa dinamakan bocah karena beberapa alasan, yang pertama yaitu dilahirkannya ruh qudus dari hati, seperti halnya dilahirkannya seorang anak dari seorang ibu yang kemudian mengurus dan mendidiknya sampai anak tersebut tumbuh besar sedikit demi sedikit. Ke-dua, yaitu bahwa sesungguhnya kewajiban belajar dan pendidikan itu buat anak-anak pada umumnya, pelajaran ma’rifat pada anak tersebut (Tiflul Ma’ani) juga sama halnya. Yang ke-tiga, ialah sesungguhnya anak-anak masih bersih dari kotoran dosa dzohiriyah, maka oleh karena itu sama halnya dengan Bocah Ma’ani tersebut yang disucikan dari kotoran dosa syirik dan Ghoflah Jamaniyah (Lupa yang bangsa jasmani). Yang ke-empat, yaitu Sesungguh perumpamaan gambaran ini (bocah) ini untuk anak yang sudah besar, oleh karena itu dalam beberapa keadaan bisa juga diumpamakan dengan apa saja yang dikehendaki seperti halnya malaikat. Yang ke-lima, yaitu sesungguhnya Allah Ta’ala mensifati buah-buahan syurga dengan bocah atau anak-anak.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda”.
QS. Al-Waqi’ah : 17. 

Dan Allah SWT berfirman :
“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan”. QS At-Thur : 24.

Yang ke-enam, yaitu sesungguhnya sebutan tersebut (anak-anak) di ibaratkan karena kelembutannya (ruh qudus) dan kebersihannya dari dosa. Yang ke-tujuh, yaitu mutlaknya sebutan bocah tersebut adalah bukan dilihat dari segi kecilnya, tetapi dilihat dari segi awal perjalanannya kembali yaitu sebagai manusia hakiki (ruh qudus), dinisbatkan ruh qudus selalu bersama Allah SWT seperti halnya jisim dan jasmani yang tidak terhalang (menyatu).

Seperti sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :
“Ada saat dimana aku bersama Allah SWT, tanpa para malaikat muqorobun dan nabi yang diutus ”.
Maksunya nabi disini adalah adalah dzohirnya Nabi Muhammad SAW, Malaikat Muqorobun adalah ruh ruhani-nya Nabi yang diciptakan dari Nur Jabarut, seperti halnya para Malaikat yang tidak bisa masuk pada Alam Lahut.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah mempunyai syurga yang di dalamnya tidak ada bidadari-bidari, gedung, lautan madu dan susu. Yang ada hanya melihat Dzat-nya Allah”.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Banyak wajah-wajah pada hari itu berseri-seri”. QS. Qiyamah : 22.

Rasulullah SAW bersabda :
“Akan datang masanya dimana kamu bisa memandang Tuhan-mu seperti halnya kamu sekalian memandang rembulan”.
Dalam keadaan tersebut apabila ada satu mahluk walaupun itu malaikat, maka akan terbakar.