Tampilkan postingan dengan label Terjemah Sirul Asror. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemah Sirul Asror. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

FASAL 2

(Tentang turunnya manusia ke dunia)


Setelah Allah SWT menciptakan ruh Qudsi di Alam Lahut dengan bentuk yang sempurna, maka Allah SWT berencana menurunkan mereka ke dunia untuk menguji apakah mereka akan melupakanNya atau malah bertambah dekat denganNya di tempat yang benar menurut Yang Maha Kuasa, itulah yang disebut dengan kedudukan para Nabi dan Auliya.
Kemudian Allah SWT menurunkan mereka (arwah) ke alam Jabarut dengan nur Tauhid didalam alam tersebut yang kemudian dibuat seperti pakaian (pakaian antara qubul dan dubur) dan dipakaikan pada mereka (arwah), begitulah seterusnya sampai di alam Mulki, Allah SWT menciptakan pakaian buat mereka yaitu pakaian‘Unsuriyah (4 unsur) yaitu dari tanah, air, udara dan api, supaya para arwah tersebut tidak terbakar didalam alam tersebut. Itulah yang disebut dengan jasad.

Adapun beberapa nama-nama pakaian mereka adalah sebagai berikut :
-    Ruh Sulthoni adalah pakaian yang diberikan di alam Jabarut yaitu pakian di antara qubul dan dubur, berasal dari nur Jabarut.
-    Ruh Ruhani Nuroni adalah pakaian yang diberikan di alam Malakut yang berasal dari nur Malakut.
-    Ruh Jismani yaitu pakaian yang diberikan di alam Mulki yang berasal dari 4 unsur (api, air, tanah dan udara).

Adapun sesudah diketahui tujuannya bahwa turunnya ruh ke dunia ini untuk di beri ujian dalam berusaha untuk dekat kembali dan berusaha mencapai derajat kemuliaan dengan pelantaraan hati dan qolab (tanazul & taroqi), kemudian Allah SWT menanamkan bibit Tauhid di dalam hati mereka yang di umpamakan sebagai bumi agar kelak dapat tumbuh menjadi pohon Tauhid yang akarnya ada di dalam sir hati dan dapat menghasilkan buah Tauhid dengan ridho dari Allah SWT. Ditanamkan juga bibit Syari’at di dalam hati mereka agar tumbuh pohon syari’at di dalam hatinya dan dapat menghasilkan buah derajat (kedudukan yang mulia).

Allah SWT memerintahkan para ruh untuk masuk ke dalam jasad dan kemudian membagi-bagi tempat di dalamnya untuk tiap-tiap ruh tersebut sebagai berikut :
-    Tempatnya Ruh Jismani di dalam jasad ialah di dalam darah dan daging.
-    Dan, tempatnya Ruh Qudsi adalah di dalam sir.

Masing-masing ruh tersebut di dalam jasad mempunyai tempat/daerah, tugas, urusan, membutuhkan dan menfaat yang berbeda. Ibarat sebuah dagangan, mereka menawarkan dan membeli barang yang berbeda dan keuntungan yang berbeda pula yang tidak akan pernah merugi, baik secara tidak langsung (sir) maupun secara langsung (jelas).
"Daripada apa yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terang,(mereka) mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi". (Surah Fatir, ayat 29).

Maka sangat penting bagi setiap manusia untuk dapat mengetahui dan memahami semua tentang dirinya (ruh) dan memahami akan tujuan sebenarnya yang sudah dibebankan kepada mereka.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur”. QS. AL-‘Adiyat : 9.

Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Dan tiap-tiap manusia Kami gantungkan (catatan) amalannya pada tengkuknya...”. QS. Bani Isra’il : 13.

Kamis, 01 Maret 2012

FASAL 1


(Tentang kembalinya manusia ke tanah asalnya)


Manusia terdiri dari 2 bagian yaitu Jasad dan Ruh. Jasad adalah bagian manusia pada umumnya (dzohiriyah) sedangkan Ruh adalah bagian manusia yang khusus (bathin).
Adapun kembalinya Jasad (manusia pada umumnya) ke tanah asalnya yaitu menuju Alam Derajat dengan mengamalkan Ilmu Syari’at, Ilmu Thoriqot dan Ilmu Ma’rifat.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Hikmah dari kumpulnya (Syari’at, Thoriqot dan Ma’rifat) yaitu mengetahui yang haq (Allah) ketika beramal dengan tanpa riya dan sum’ah ”.

Karena sesungguhnya Alam Derajat itu terbagi menjadi 3 bagian,
1.    Syurga yang berada di Alam Mulki, disebut Syurga Ma’wa.
2.    Syurga yang berada di alam Malakut, disebut Syurga Na’im.
3.    Syurga yang berada di alam Jabarut, disebut Syurga Firdaus.
Adapun yang disebutkan diatas adalah beberapa kenikmatan yang bersifat jasmaniyah. Jasmani tidak akan dapat sampai pada alamnya (tempatnya) kecuali dengan mengamalkan 3 ilmu yaitu Ilmu Syari’at, Ilmu Thoroqit dan Ilmu Ma’rifat.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Hikmah dari kumpunlnya (Syari’at, Thoriqot dan Ma’rifat) adalah mengetahui yang haq (Allah) dan mengamalkannya, mengetahui yang bathil dan menjauhinya”.

Dan sebagaimana Rasulullah SAW menyebutkan dalam sebuah doa :
“Ya Allah, tunjukkan pada-ku mana yang haq benar-benar haq dan berilah kekuatan kepada-ku untuk bisa mengikutinya (haq). Dan tunjukkanlah pada mana yang benar-benar bathil dan berilah kekuatan pada-ku untuk menjauhinya”.

Dan sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri dan menentang segala keinginannya, maka ia benar-benar telah mengenal Tuhan-nya dan mau mengikutinya”.
Adapun tempat kembali dan pulangnya Ruh (bagian manusia yang khusus) adalah menuju alam Qurbah, hal tersebut bisa tercapai sebab mengamalkan Ilmu Hakikat, yaitu yang disebut dengan Ilmu Tauhid di alam Qurbah Lahut, yaitu ketika perjalanan hidupnya di dunia ia selalu membiasakannya baik dalam keadaan tidur maupun sadar, karena ketika jasadnya tertidur maka akan dirasakan bahwasanya hatinya terlepas dan pergi menuju tanah asalnya. Adapun kejadian tersebut (terlepasnya hati) adakalanya dengan seluruh bagian-bagiannya, dan ada juga yang hanya bagian tertentu dari hati tersebut saja.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan ”. QS. Az-Zumar : 42.

Oleh karena hal tersebut, Nabi bersabda :
“Tidurnya orang alim (ber-ilmu) lebih baik dari pada ibadahnya seribu orang yang bodoh ”.
Maksudnya adalah sesudah hidup hati dengan Cahaya Tauhid, mengucapkan dengan lisan sir (rahasia) tanpa huruf dan suara.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi :
“Manusia adalah rasa-Ku, dan Aku tersembunyi di dalam manusia”.

Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya Ilmu Bathin adalah sebuah rahasia dari beberapa rahasia-Ku yang Aku ciptakan di dalam hati hamba-hambaKu. Dan tidak akan ada yang tahu kecuali Aku”.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Aku tergantung pada prasangka hamba hamba-Ku, dan Aku beserta hamba ketika ia mengingatku. Ketika ia mengingat-Ku, maka aku akan bersamanya. Dan ketika ia benar-benar mengingat-Ku dengan sepenuh hati, maka Aku-pun akan benar-benar bersamanya. Sesungguhnya hal tersebut adalah lebih baik”.
Yang dimaksud hamba-hamba diatas adalah manusia yang sedang bertafakur.


Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Bertafakur selama 1 jam lebih baik dibandingkan beribadah 1 tahun”.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Bertafakur selama 1 jam lebih baik dibandingkan beribadah 70 tahun ”.

Dan sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Bertafakur selama 1 jam lebih baik dibandingakan ibadahnya 1000 tahun”.
Buah atau yang sebenarnya dari hadist-hadist diatas adalah boleh dikatakan sebagai berikut :
“Barang siapa yang bertafakur di dalam hal-hal furu’iyah, maka nilai tafakurnya dalam 1 jam lebih baik dibandingkan selama 1 tahun”.
“Barangsiapa yang bertafakur tentang sesuatu yang wajib baginya, maka nilai tafakurnya dalam 1 jam lebih baik dibandingkan ibadah selama 70 tahun”.
“Dan barangsiapa yang bertafakur untuk berma’rifat (mengenal) Allah, maka nilai tafakurnya ddalam 1 jam lebih baik dibandingkan ibadah selama 1000 tahun”.
Maksudnya adalah bertauhid, karena dengan Tauhid para ahli ma’rifat bisa mencapai kepada sesuatu yang dikenal dan dicintainya, yaitu Allah SWT. Dan buahnya adalah ruh-nya bisa terbang menuju Alam Qurbah.
Orang ahli ibadah terbang menuju syurga, sedangkan orang ahli ma’rifat terbang menuju alam Qurbah.

Para ahli syair melantunkan sebuah syair (ruba’i) yang berbunyi :
Hatinya orang-orang yang kasmaran dapat memandang.
Dapat melihat sesuatu yang orang lain tidak dapat melihatnya.
Mempunyai sayap tanpa daging dan darah yang dapat terbang.
Menuju kerajaan Tuhan alam semesta ini!

Adapun sayap untuk terbang ini berada di dalam bathinnya orang-orang ‘arif (ahli ma’rifat), yaitu hakikatnya manusia yang disebut juga dengan Kekasih, Muhrim dan Pengantinnya Allah SWT.

Syekh Abu Yazid Al-Busthomi pernah berkata :
“Ahlinya Allah yaitu adalah pengantin-pengantinNya”.



Dalam riwayat yang lain menyebutkan :
“Para Auliya (kekasih Allah) adalah pengantin-pengantin Allah. Maka tidak akan ada yang tahu pengantin kecuali oleh pasangan (muhrim)nya sendiri. Mereka tertutupi hijab kemanusiaan, sehingga tidak akan ada yang dapat melihatnya kecuali Allah SWT ”.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsyi :
“Kekasih-Ku ada didalam perlindungan-Ku. Tidak ada yang dapat mengetahui mereka kecuali Aku”.
Dan manusia tidak akan bisa melihat dzohir pengantinya kecuali hanya hiasannya saja.

Syekh Yahya Ibnu Mu’adz Ar-Rozi berkata :
“Para kekasih Allah adalah minyak wangi Allah di dalam dunia. Wanginya dapat dirasakan oleh hati orang-orang yang jujur sampai kedalam hatinya, maka merekapun merasa rindu dan ingin kembali kepadaNya”.
Maka menjadi sebab bertambahnya ibadah mereka melalui jalan atau tata cara yang berbeda-beda tergantung dari ukuran ke-fanaan mereka, karena semakin dekat dengan Allah SWT maka ukuran ke-fanaannya pun akan semakin bertambah.
“Kekasih-Ku adalah orang yang fana karena Aku di dalam tingkahnya”.
Selebihnya, ia selalu musyahadah (memandang) kepada yang haq, dan tidak ada dalam dirinya sebuah ikhtiyar (usaha) apapun karena ia benar-benar merasa lemah dan tidak sanggup apa-apa, tidak ada satupun yang menyertainya dan dapat menguatkannya kecuali Allah SWT, itulah orang yang akan diberi kedudukan yang mulia (karomah) dan disamarkan kemuliaannya tanpa diperlihatkan atau dipamerkan. Karena memperlihat/memamerkan rahasia yang bersifat ketuhanan hukumnya kufur.

Disebutkan didalam kitab Al-Mirshod :
“Orang-orang yang mempunyai karomah (kemuliaan) itu tertutupi (samar)”.
Karomah adalah kelebihannya seorang laki-laki, sedangkan wali mempunyai 1000 macam maqom (kedudukan), dan kedudukan yang paling awal adalah jalan Karomah. Maka barangsiapa berhasil melewatinya maka ia akan mendapatkan kedudukan-kedudukan yang lainnya, begitu juga sebaliknya, apabila ia gagal melewatinya maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa.

Jumat, 24 Februari 2012

Mukodimah

MUKODIMAH
(Menerangkan tentang Awal Penciptaan Mahluk)

Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT telah mendatangkan kepadamu sesuatu yang dicintai dan diridhoiNya, ketika Allah SWT menciptakan Ruh Muhammad SAW pada awalnya dari Nur sifat Jamal (Keagungan)Nya.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Aku ciptakan Ruh Muhammad SAW dari Nur Dzat-Ku”.
Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Ruh-ku, Sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Nur-ku, sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Qolam dan sesuatu yang Allah ciptakan pertama adalah Akal”.
Yang dimaksud semuanya adalah sesuatu yang satu, yaitu Hakikat Muhammad SAW, tetapi dinamakan Nur karena terang, bersih dari kegelapan Al-Jalaliyah.
Allah Tabaroka Wata’ala berfirman :
“Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah sebuah cahaya dan kitab yang jelas” QS. Al-Maidah : 15

Akal bisa menemukan segalanya, sedangkan Qolam menjadi sebab berpindahnya ilmu, seperti halnya pena yang menjadi alat berpindahnya ilmu ke dalam bentuk huruf/tulisan.
Maka Ruh Muhammad adalah bentuk yang murni, awalnya mahluk yang ada di alam semesta ini dan merupakan asal cikal bakalnya mahluk.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Aku diciptakan dari Allah, dan orang-orang mukmin diciptakan dari-ku”.

Dan Allah SWT menciptakan semua ruh di alam Lahut dari Nur Muhammad di dalam kesempurnaan bentuk pada hakikatnya. Muhammad adalah adalah nama global dari seluruh manusia di alam (Lahut) tersebut, yaitu yang disebut dengan Tanah Asal.
Sesudah berselang 40.000 tahun di alam lahut, kemudian Allah menciptakan ‘Arsy dan semua alam semesta dan isinya dari Nur dzatnya Nabi Muhammad SAW, maka kemudian Allah SWT memasukan para arwah tersebut kedalam ciptaanNya yang paling rendah yaitu beberapa Jasad.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Kemudian Kami masukan ia ke dalam bentuk yang paling rendah”.
QS. At-Tin : 15.

Maksudnya ialah turunnya ruh pada awalnya dari alam Lahut ke alam Jabarut, kemudian Allah memakaikan kepada mereka (ruh) sebuah pakaian yang bersal dari Nur Jabarut, yaitu sebuah pakaian yang menutupi qubul dan duburnya, maka kemudian ruh tersebut diberi nama Ruh Sulthoni. Kemudian Allah menurunkan kembali ruh yang sudah memakai pakian tersebut ke alam Malakut dan diberi pakaian kembali yang berasal dari Nur Malakut, dan mereka di beri nama dengan Ruh Ruhani, kemudian diturunkan kembali ke alam Mulki dan diberi pakaian yang berasal dari Nur Mulki dan kemudian diberi nama Ruh Jismani. Kemudian Allah menciptakan jasad dari Tanah alam mulki tersebut.

Sebagaimana Allah SWT  berfirman :
“Dari tanah Aku menjadikan kamu sekalian, dan ke dalam tanah Aku akan mengembalikan kamu dan dari dalam tanah kembali Aku membangkitkan kamu sekalian pada kehidupan yang lain”. QS. Toha : 55.

Kemudian Allah SWT memerintahkan ruh-ruh tersebut untuk masuk kedalam jasad, maka dengan perintah Allah ruh tersebut pun masuk.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“ Aku tiupkan kedalam jasad roh-Ku...”. QS. Shod : 72.

Maka ketika ruh-ruh tersebut menyatu didalam jasad, mereka menjadi lupa semuanya, asal-usulnya dan tentang hari perjanjian mereka dengan Allah SWT ketika ditanya oleh Allah SWT, “Apakah Aku ini Tuhanmu? Kemudian mereka menjawab : iya!”. Dan mereka berjanji akan selalu menyebut dan mengingat-ngingat namanya sampai hari kiamat. Mereka (para ruh) lupa. Maka ruh-ruh tersebut tidak akan bisa pulang kembali ke tanah asalnya (alam Lahut), maka Allah Ar-Rohman merasa kasihan kepada mereka dengan menurunkan Kitab Samawiyah untuk mengingatkan mereka kepada tanah asalnya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Dan Allah mengingatkan mereka akan hari-hari Allah”. QS. Ibrohim : 5.
Yaitu hari bersamanNya, Tentang perjalanan mereka yang sudah terlewat. Untuk alasan inilah para Nabi-nabi terdahulu sampai dengan diutusnya Ruh Agung yaitu Nabi Muhammad SAW yang menjadi utusan terahir dan menjadi petunjuk dari jalan yang salah, beliau dan para nabi-nabi lainnya di utus ke dunia ini dan pergi ke akhirat yaitu untuk mengingatkan ruh akan perjalanannya menuju tanah asal mereka, maka hanya sedikit sekali yang ingat, berkeinginan dan mau pulang menuju tanah asalnya (Alam Lahut).
Maka Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW terhadap golongan orang-orang yang lupa, supaya mata hati mereka terbangun dan sadar dari tidur yg melelapkan, maka Nabi pun memanggil-manggil mereka untuk kembali kepada Allah SWT, berkumpul kembali dengaNya dan merasakan kembali sifat Jamal-Nya yg Azali.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata".
QS. Yusuf : 108.

Rasulullah SAW bersabda :
“Sahabat-sahabat-ku adalah umpama bintang di langit. Sesiapa daripada
mereka yang kamu ikuti, maka kamu akan temui jalan yang benar”.

Mata hati adalah bagian dari Dzatnya Ruh, yang akan terbuka di dalam jantung hati orang-orang yg sudah menjadi kekasih-nya Allah (para Auliya). Dan yang demikian tersebut tidak akan tercapai hanya dengan Ilmu Dzohir, tetapi harus dengan Ilmu Laduni Al-Bathin.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
QS. Al-Kahfi : 65.

Maka wajib hukumnya bagi tiap-tiap manusia untuk bisa mencapai hal tersebut (membuka mata hati) bagi orang-orang yang mempunyai mata hati dengan ditalqin oleh Wali Mursyid (Guru) yang mengetahui dan dapat menjelaskan tentang perjalanan ruh dari Alam Lahut dahulu. Maka wahai saudar-saudara... bergegaslah kalian semua meminta pengampunan dari Allah SWT dengan cara bertaubat dan kembali kepadaNya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Dan bergegaslah kamu sekalian menuju pengampunan dari Tuhan-mu, Syurga luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” QS. Al-Imron : 133.
Maka masuklah kalian pada jalan tersebut dan kembalilah kepada Tuhan kalian yaitu Allah SWT dengan beberapa kunci (cara) keruhanian tersebut sebelum jalan tersebut terputus dan tidak ada lagi yang menemani-mu di alam tersebut.

Oleh karena itu para Nabi-Nabi kalian menunggu dan bersusah payah dikarenakan kalian, dan tidak sekali-sekali Aku (Nabi Muhammad SAW) diturunkan ke dunia yang hina ini hanya sekedar untuk makan dan memenuhi kebutuhan badan saja, dan bukan hanya untuk memanjakan keinginan nafsu yang hina ini.

Sebagaimana Rasululloh SAW bersabda :
“Aku bersusah payah karena umat-ku yang ada di ahir zaman”.

Adapun Ilmu yang diturunkan kepadaku yaitu ada 2 macam ilmu, yaitu Ilmu Dzohir dan Ilmu Bathin, maksudnya ialah Ilmu Syari’at dan Ilmu Ma’rifat. Adapun kedudukannya Ilmu Syari’at adalah pada dzohir-ku, dan Ilmu Ma’rifat untuk bathin-ku, sampai hasil dari kumpulnya kedua ilmu tersebut yaitu Ilmu Hakikat. Seperti halnya kumpulnya pohon dan daunnya yang menghasilkan buah.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Terbentang 2 samudera yang saling bertemu, dan diantaranya terdapat daratan yang tak berujung”.

Maka hanya dengan mengandalkan Ilmu Dzohir, tidak akan bisa mencapai ilmu Hakikat dan tidak akan samapai pada tujuan yang dimaksud. Maka Ibadah yang sempurna ialah dengan keduanya (dzohir dan bathin), bukan dengan salah satunya saja.


Allah Ta’ala berfirman :
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. QS. Adzariyat : 56.
Maksudnya ialah supaya mereka mengenal dan berma’rifat.
Karena, barangsiapa yang tidak mengenal Allah SWT, bagaimana ia akan beribadah/menyembahNya.

Sesungguhnya ilmu Ma’rifat bisa dicapai dengan cara membuka/menyingkirkan hijab nafsu dari Kaca Hati, yaitu dengan cara membersihkan dan mensucikannya, sesudah hal tersebut tercapai maka akan terlihat eloknya tempat atau harta karun yang disamarkan didalam Sir Palung Hati.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi :
“Sesungguhnya Aku berada pada suatu tempat/harta karun yang disamarkan, maka Aku senang untuk dikenal, maka aku ciptakan mahluk supaya mengenak-Ku”.
Maka, oleh karena itu jelaslah sudah, sesungguhnya Allah SWT menciptakan manusia untuk berma’rifat/mengenal kepadaNya.

Adapun Ilmu Ma’rifat itu terbagi menjadi 2 macam :
1.    Ma’rifat Sifat Allah (Mengenal sifat-sifat Allah SWT), yaitu diperuntukan bagi Jasmani di Dunia dan Akhirat.
2.    Ma’rifat Dzat Allah (Mengenal dzat Allah SWT), yaitu diperuntukan bagi Ruh Qudus di Alam Akhirat.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“dan Kami memperkuatnya dengan Ruh Qudus”. QS. Al-Baqoroh : 87.
Dan mereka diperkuat dengan Ruh Qudus.

Dan 2 macam Ilmu Ma’rifat tersebut tidak akan berhasil tanpa dengan kedua ilmu yg sudah diterangkan sebelumnya, yaitu Ilmu Dzohir dan Ilmu Bathin.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Ilmu itu ada 2, Ilmu Lisan (ucapan) yaitu untuk menjadi dalil dan bukti akan adanya Allah. Dan Ilmu Jinan (Jinan) itulah yang disebut Ilmu yang dapat bermanfaat (Nafi’) ”. Yaitu dapat mencapai maksud yang dituju.
Adapun pada awalnya manusia membutuhkan Ilmu Syari’at, agar dapat berhasil usaha jasmaniyah/badannya dalam berma’rifat kepadaNya, yaitu di dalam Alam Sifat atau disebut juga Alam Derajat. Kemudian dilanjutkan dengan Ilmu Bathin, agar dapat berhasil usaha ruh dalam  berma’rifat kepadaNya. Dan hal tersebut tidak akan berhasil kecuali dengan membuang kotoran/larangan-larangan yang bertentangan dengan Syari’at dan Thoriqot, dengan cara harus siap dan menerima untuk memerangi nafsu dan bersusah payah dalam kehidupan demi hanya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT dengan tanpa riya (Ingin dilihat) dan sum’ah (Ingin didengar).

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Barangsiapa mengharapkan dapat bertemu dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah sekali-kali ia mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
QS. Al-Kahfi : 110.

Adapun Alam Ma’rifat adalah Alam Lahut atau yang disebut dengan tanah asal yang sudah diterangkan sebelumnya. Di alam tersebut Ruh Qudus diciptakan dengan bentuk yang sempurna. Yang dimaksud dengan Ruh Qudus tersebut adalah hakikatnya manusia (Insan Hakiki) yang diletakan didalam  Palung Hati, dan bisa dzohir wujudnya dengan taubat, talqin dan membiasakan lisannya untuk selalu mengucap-ucapkan kalimat “Lailaha ilallah” pada tahap awalnya, setelah hatinya hidup kemudian kalimat “Lailaha ilallah” tersebut dibiasakan diucapkan di dalam hati. Ketika dalam keadaan rohani yang demikian (dzohir/wujudnya ruh qudsi) maka bisa sebut kembali dengan sebutan “Bocah ma’ani” karena di dalam maknanya suci kembali dari segala seperti halnya seorang bocah/bayi.
Ruh Qudus bisa dinamakan bocah karena beberapa alasan, yang pertama yaitu dilahirkannya ruh qudus dari hati, seperti halnya dilahirkannya seorang anak dari seorang ibu yang kemudian mengurus dan mendidiknya sampai anak tersebut tumbuh besar sedikit demi sedikit. Ke-dua, yaitu bahwa sesungguhnya kewajiban belajar dan pendidikan itu buat anak-anak pada umumnya, pelajaran ma’rifat pada anak tersebut (Tiflul Ma’ani) juga sama halnya. Yang ke-tiga, ialah sesungguhnya anak-anak masih bersih dari kotoran dosa dzohiriyah, maka oleh karena itu sama halnya dengan Bocah Ma’ani tersebut yang disucikan dari kotoran dosa syirik dan Ghoflah Jamaniyah (Lupa yang bangsa jasmani). Yang ke-empat, yaitu Sesungguh perumpamaan gambaran ini (bocah) ini untuk anak yang sudah besar, oleh karena itu dalam beberapa keadaan bisa juga diumpamakan dengan apa saja yang dikehendaki seperti halnya malaikat. Yang ke-lima, yaitu sesungguhnya Allah Ta’ala mensifati buah-buahan syurga dengan bocah atau anak-anak.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda”.
QS. Al-Waqi’ah : 17. 

Dan Allah SWT berfirman :
“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan”. QS At-Thur : 24.

Yang ke-enam, yaitu sesungguhnya sebutan tersebut (anak-anak) di ibaratkan karena kelembutannya (ruh qudus) dan kebersihannya dari dosa. Yang ke-tujuh, yaitu mutlaknya sebutan bocah tersebut adalah bukan dilihat dari segi kecilnya, tetapi dilihat dari segi awal perjalanannya kembali yaitu sebagai manusia hakiki (ruh qudus), dinisbatkan ruh qudus selalu bersama Allah SWT seperti halnya jisim dan jasmani yang tidak terhalang (menyatu).

Seperti sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :
“Ada saat dimana aku bersama Allah SWT, tanpa para malaikat muqorobun dan nabi yang diutus ”.
Maksunya nabi disini adalah adalah dzohirnya Nabi Muhammad SAW, Malaikat Muqorobun adalah ruh ruhani-nya Nabi yang diciptakan dari Nur Jabarut, seperti halnya para Malaikat yang tidak bisa masuk pada Alam Lahut.

Nabi Muhammad SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah mempunyai syurga yang di dalamnya tidak ada bidadari-bidari, gedung, lautan madu dan susu. Yang ada hanya melihat Dzat-nya Allah”.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Banyak wajah-wajah pada hari itu berseri-seri”. QS. Qiyamah : 22.

Rasulullah SAW bersabda :
“Akan datang masanya dimana kamu bisa memandang Tuhan-mu seperti halnya kamu sekalian memandang rembulan”.
Dalam keadaan tersebut apabila ada satu mahluk walaupun itu malaikat, maka akan terbakar.

Pembukaan

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui. Dzat yang Maha Adil lagi Maha Pemurah. Tuhan yang disembah oleh seluruh isi semesta alam, Dzat yang Maha Mengasihi, yang menurunkan pengingat (Al-Qur’an) yang menjadi hukum kepada utusan (Rasulullah SAW) denan agama (Islam) yang kuat, yaitu jalan kebenaran (sirotol mustaqim).
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada utusan terahir yang menjadi petunjuk/ penyelamat dari jurang kesalahan, yang merupakan utusan termulia dengan diturunkannya kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) diantara kitab-kitab lainnya. Dialah Muhammad SAW, seorang Nabi yang bersifat umi (dari kalangan jelata/bodoh tapi dapat mengerti segala sesuatu tanpa melalui proses belajar), yang berasal dari bangsa ‘Arab dan dapat dipercaya. Dan juga semoga selalu tercurahkan terhadap para sahabatnya yang terpilih, yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang yg membutuhkan petunjuk dan pertolongan.
Setelah membaca bismillah, hamdallah, sholawat serta salam.
Adapun silsilah Syekh ‘Abdul Qodir Al-Jailani adalah sebagai berikut :
Syekh ‘Abdul Qodir Al-Jailani Al-Hasan Husain bin Imam assayid Abi sholih Musa Janki Dawsta, bin Imam Sayid Abdullah, bin Imam Sayid Yahya Zahid, bin Imam Sayid Muhammad, bin Imam Sayid Dawud, bin Imam Sayid Musa, bin Imam Sayid Abdullah, bin Imam Sayid Abdullah, bin Imam Sayid Musa Al-jawni, bin Imam Sayid Abdullah Al-Muhdi, bin Imam Sayid Hasan Musana, bin Imam Hamam yaitu sayidina Hasan As-subtho, bin Sayid Amirul Mu’minin Abil Hasan Walhusain yaitu Sayidina ‘Ali  bin Abi Tholib R.A. Semoga keridhoan Allah SWT selalu menyertai mereka semua.
Adapun nasab Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dari jalur Ibu adalah sebagai berikut :
Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, bin Sayidah Fatimah, binti Sayid Abdullah As-shoma’iyi Az-Zahid, bin Sayid Abi Jamaludin Muhammad, bin Sayid Abu ‘Atho Abdullah, bin Sayid Kamaludin ‘Isa, bin Sayid Imam Abi ‘Alaudin Muhammad Al-Jawad, bin Sayid Imam ‘Ali Ar-Ridho, bin Sayid Imam Musa Al-Kadzim, bin Imam Ja’far Shodiq, bin Imam Muhammad Baqir, bin Imam Zainal ‘Abidin Ali, bin Imam Hamam Husain Syahid Karbala, bin Sayidina Ali bin Abi Tholib RA.
Sesudah kita fahami bahwasanya “Ilmu” itu merupakan Pengayom yang paling mulia, agung derajatnya, tinggi kedudukannya dan modal yang paling bermanfaat, maka dengan ilmu juga bisa mengantarkan (washilah) untuk bisa mentauhidkan Allah Ar-Robbul Alamin, dan membenarkan seluruh utusanNya. Maka jadilah para Ulama menjadi hamba Allah yang dikhususkan, yaitu orang-orang yang ditetapkan Allah untuk selalu memberikan pelajaran-pelajaran tentang agamaNya, orang-orang yang diberikan petunjuk dan dipilih oleh Allah SWT. Mereka (para Ulama) adalah pewaris dan menjadi pengganti para Nabi.

Sebagaimana Allah SWT berfirman :
“Maka kemudian Aku wariskan (turunkan) kitab terhadap orang-orang yang Aku pilih dari kalangan hamba-hambaKu, Sebagian dari mereka Dzolim terhadap sendirinya, sebagian lagi tidak mempunyai pendirian (yaitu orang-orang yang kebaikan dan keburukannya seimbang) dan sebagian lagi mereka yang selalu berlomba-lomba didalam kebaikan” QS.

Rasulullah Bersabda :
“Ulama adalah Pewaris Ilmu para Nabi”.

Dicintai oleh para ahli langit dan seluruh hewan didaratan dan lautan selalu memintakan maghfirih untuk mereka sampai hari kiamat.



Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya para Ulama adalah hamba-hambaKu yang takut kepadaKu”. QS.

Rasulullah SAW bersabda :
“Allah akan membangkitkan semua mahluk pada hari kiamat, kemudian Allah memisahkan golongan Ulama”. Kemudian Allah berkata kepada mereka : “Wahai para Ulama... Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan ilmuKu yang ada pada diri kalian kecuali karena ilmuKu yang ada pada kalian, maka Aku akan memberi Adzab siksa bagi siapa saja yang menyia-nyiakan ilmuKu yang ada pada kalian, maka bergegaslah kalian menuju syurga dan Aku memberikan MaghfirohKu kepada kalian”.
Segala puji bagi Allah Ar-Robbul Alamin di setiap waktu dan tempat, yaitu Dzat yang menciptakan beberapa Alam Derajat sebagai tempat  pelindung bagi orang-orang yang Ahli Ibadah. Dan menciptakan Alam Qurbah untuk orang-orang Ahli Ma’rifat.

 Dan sesungguhnya ada sebagian santri memintaku untuk mengumpulkan atau membuat sebuah tulisan (karangan) sebagai pelengkap bagi orang-orang yang sudah merasa cukup, maka kemudian aku membuat sebuah karangan untuk memenuhi permintaan mereka (sebagian santri) supaya bisa menjadi penjawab dan pengobat bagi bagi mereka dan yang lainnya. Aku menamakannya “Sirrul Asror” menerangkan tentang sesuatu yang dibutuhkan oleh orang-orang Ahli Kebaikan.
Sesungguhnya aku menjelaskan didalamnya tentang ilmu yang dicari pada umumnya, yaitu didalam Ilmu Syariat, Thoriqot dan Hakikat, dan aku menjadikannya dalam beberapa bagian, yaitu Mukodimah dan 24 fasal atau bab, sama dengan jumlah huruf yang ada di kalimat “Lailaha ilallah Muhammadurosulullah” dan jumlah jam dalam sehari semalam.

Adapun perinciannya adalah sebagai berikut :

-    Mukodimah (Menerangkan tentang Awal penciptaan mahluk)
-    Fasal 1 (Tentang kembalinya manusia ke tanah asalnya).
-    Fasal 2 (Tentang turunnya manusia ke dunia).
-    Fasal 3 (Tentang tempat-tempatnya Ruh didalam jasad).
-    Fasal 4 (Tentang beberapa Ilmu)
-    Fasal 5 (Tentang Taubat dan Talqin).
-    Fasal 6 (Tentang Ahli Tasawuf).
-    Fasal 7 (Tentang beberapa Dzikir).
-    Fasal 8 (Tentang Saratnya Dzikir).
-    Fasal 9 (Tentang Melihat Allah SWT).
-    Fasal 10 (Tentang Hijab Kegelapan dan Hijab Cahaya).
-    Fasal 11 (Tentang Kebahagiaan dan Celaka).
-    Fasal 12 (Tentang Orang-orang Fakir).
-    Fasal 13 (Tentang Toharoh Syari’at dan Thoriqot).
-    Fasal 14 (Tentang Beberapa Sholat Syari’at dan Sholat Thoriqot).
-    Fasal 15 (Tentang Thoharoh Ma’rifat Di Alam Tajrid).
-    Fasal 16 (Tentang Zakat Syri’at dan Zakat Thoriqot).
-    Fasal 17 (Tentang Puasa Syari’at dan Puasa Thoriqot).
-    Fasal 18 (Tentang Haji Syari’at dan Haji Thoriqot).
-    Fasal 19 (Tentang Kasmaran dan Kesucian).
-    Fasal 20 (Tentang Khalwat dan ‘Uzlah).
-    Fasal 21 (Tentang Beberapa Wiridan Khalwat).
-    Fasal 22 (Tentang Kejadian di waktu tidur dan bangun).
-    Fasal 23 (Tentang Ahli Tasawuf).
-    Fasal 24 (Tentang Penutupan).

Tidak ada pertolongan kecuali hanya oleh Allah dan kepadaNya aku kembali.